LGBT
A. LGBT
Lesbian
Gay Bisexual Transgender atau yang sering disingkat dengan LGBT dianggap sebagai
suatu kondisi penyimpangan orientasi seksual. Lesbian adalah sebutan bagi
seorang wanita yang memiliki ketertarikan emosi dan hubungan seksual terhadap
sesama wanita dan Gay adalah sebutan bagi seorang pria yang memiliki
ketertarikan emosi dan hubungan seksualnya adalah terhadap pria lain. Kondisi ini
kerap disebut dengan homoseksual yakni memiliki ketertarikan secara fisik dan
emosional dengan individu berjenis kelamin sama. Sedangkan biseksual adalah
suatu kondisi seseorang yang memiliki ketertarikan emosi dan seksual kepada
lawan jenis sekaligus kepada sesama jenis. Transgender adalah istilah yang
digunakan untuk orang yang identitas gender, gender expression,atau
perilakunya tidak sesuai dengan identitas seksualnya. Identitas gender (gender
identity)adalah pengetahuan diri seseorang mengenai gendernya yaitu pria
atau wanita, gender expression adalah cara seseorang untuk
mengkomunikasikan identitas gendernya kepada orang lain melalui perilaku,
pakaian, gaya rambut, suara atau karakteristik tubuhnya, dan identitas seksual
adalah jenis kelamin biologis seseorang yang dibawa sejak lahir.
B.
Penyebab Utama
§ Biologis
Faktor biologis seperti pengaruh genetik dan level hormon prenatal ( level hormone sebelum melahirkan), pengalaman masa kecil, dan pengalaman di masa remaja atau dewasa menurut banyak ahli dapat berpengaruh untuk perkembangan identitas gender dan transgender. Ada juga ahli yang berpendapat bahwa terdapat struktur yang bebeda pada medial preoptik areayang menyebabkan seseorang memiliki disorientasi seksual. Jika seseorang merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan identitas seksual yang dibawanya sejak lahir karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan maka hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi transgender.
Faktor biologis seperti pengaruh genetik dan level hormon prenatal ( level hormone sebelum melahirkan), pengalaman masa kecil, dan pengalaman di masa remaja atau dewasa menurut banyak ahli dapat berpengaruh untuk perkembangan identitas gender dan transgender. Ada juga ahli yang berpendapat bahwa terdapat struktur yang bebeda pada medial preoptik areayang menyebabkan seseorang memiliki disorientasi seksual. Jika seseorang merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan identitas seksual yang dibawanya sejak lahir karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan maka hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi transgender.
§ Lingkungan
Lingkungan mengambil peranan yang cukup penting bagi seseorang untuk memahami identitas seksual dan identitas gendernya. Faktor lingkungan ini terdiri atas :
Lingkungan mengambil peranan yang cukup penting bagi seseorang untuk memahami identitas seksual dan identitas gendernya. Faktor lingkungan ini terdiri atas :
·
Budaya
/ Adat Istiadat. Pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam
suatu kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi
masing-masing orang dalam kelompok masyarakat tersebut. Demikian pula dengan
budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur homoseksualitas dapat
mempengaruhi seseorang menjadi seorang homoseksual (lesbian dan gay) ataupun
dengan budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur biseksualitas yang dapat
menyebabkan seseorang menjadi seorang biseksual. Mulai dari cara berinteraksi
dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan maupun pola
pemikiran tertentu terutama berkaitan dengan orientasi, tindakan dan identitas
seksual seseorang.
·
Pola
Asuh. Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi seseorang menjadi
LGBT. Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai
seorang pria atau perempuan. Pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas
pada sebutan namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan
tersebut seperti penampilan fisik yang meliputi pemakaian baju, penataan
rambut, pengenalan karakteristik fisik meliputi perbedaan alat kelamin pria dan
wanita, karakteristik sifat seperti pria yang lebih menggunakan logika, lebih
menyukai kegiatan yang memacu adrenalin dan mengandalkan fisik. Sedangkan
wanita cenderung lebih menggunakan emosi dan perasaan dan lebih memilih
kegiatan yang mengandalkan otak dan otot halus. Karakteristik tuntutan dan
harapan seperti sosok pria yang dituntut menjadi tegas, kuat dan bekerja untuk
menafkahi keluarga sedangkan wanita yang dituntut menjadi sosok yang lebut,
halus agar bisa mengurus keluarga.Figur orang yang berjenis kelamin sama dan
relasinya dengan lawan jenis.
·
Dalam
proses pembentukan identitas seksual, seorang anak pertama-tama akan melihat
pada orangtua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya. Anak
laki-laki melihat pada ayahnya dan anak perempuan melihat pada ibunya. Kemudian
mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin sama dengannya.
Karakteristik homoseksual terbentuk ketika anak-anak ini gagal mengidentifikasi
dan mengasimilasi bagaimana menjadi dan menjalani peran sesuai dengan identitas
seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita. Kegagalan
mengidentifikasi dan mengasimilasi identitas seksual ini dapat dikarenakan
figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan peran identitas
seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku. Misalnya, ibu
yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional dengan
anak-anaknya. Ayah tampil sebagai figur yang lemah dan tidak berdaya atau orang
tua yang homoseksual.Kekerasan Seksual dan Pengalaman Traumatik Kekerasan
Seksual. Kekerasan seksual dan pengalaman traumatik kekerasan seksual yang
dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap orang lain yang
berjenis kelamin sama adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang
menjadi homoseksual.
C.
Apakah
LGBT dapat dikatakan sebagai mental disorder?
Suatu keadaan
psikologis dapat dikatan sebagai mental disorderhanya bila keadaan
tersebut mengakibatkan penderitaan yang parah atau disabilitas. Banyak LGBT
yang tidak merasa gender mereka sebagi suatu kesengsaraan atau “kelumpuhan”
termasuk bahwa identitas sebagai LGBT tidak dapat dikatakan sebagai mental
disorder. Untuk orang-orang tersebut, masalah yang signifikan adalah
mencari sumber-sumber yang dapat dijangkau seperti konseling, terapi hormon,
prosedur medis, dan dukungan sosial untuk dapat secara bebas mengekspresikan
identitas gender mereka dan menekan diskriminasi. Banyak rintangan lain yang
dapat menyebabkan keadaan yang sulit termasuk kurangnya penerimaan di
masyarakat, pengalaman diskriminasi secara langsung ataupun tidak langsung atau
penyerangan. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat mengakibatkan LGBT hidup
dengan kecemasan dan depresi.
Ada 2 jenis
kecenderungan LGBT yaitu Ego sistonik dan ego distonik. Ego sistonik adalah
LGBT merasa sangat nyaman dengan perasaannya sehingga cenderung menunjukkan di
depan umum tanpa merasa canggung sedangkan ego distonik adalah LGBT yang merasa
kurang nyaman dengan keadaannya sehingga tidak menunjukkan keadaan sebenarnya
di di depan umum.
Berdasarkan pada Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorder(5th ed.; American
Psychiatric Association, 2013), orang yang mengalami pengalaman yang intens,
berkaitan dengan ketidaksesuaian gender dapat diberikan diagnosis sebagai gender
dysphoria. Beberapa berpendapat bahwa diagnosis yang tidak sesuai
dengan patologis ketidaksesuaian gender harus dieliminasi. Yang lain
berpendapat hal ini esensial untuk menahan diagnosis untuk menjamin akses untuk
perawatan. The International Classification of Diseases (ICD) masih
direvisi, dan mungkin akan ada perubahan menuju klasifikasi terbaru dari
ketidaksesuaian gender yang telah berlangsung lama sebagai gender
identity disorder.
D.
Apakah
LGBT bisa disembuhkan?
Dikutip dari portal
online BBC Indonesia pada tanggal 10 Februari 2016, Ahli Neurologi, dr. Ryu
Hasan mengatakan tidak ada istilah sembuh bagi orang yang memiliki orientasi
seksual lesbian gay, dan biseksual. Menurutnya, di dalam dunia kedokteran saat
ini, LGBT bukanlah penyakit ataupun gangguan jadi tidak perlu disembuhkan,
kecuali jika mereka (LGBT ) merasa tidak nyaman maka dapat dikatakan mengalami
gangguan dan peru dilakukan terapi. Tetapi, konseling yang dimaksud Ryu Hasan
bukanlah untuk menghilangkan perilakunya melainkan berfokus untuk menghilangkan
rasa tidak nyaman. Dia menegaskan bahwa orientasi seksual tidak bisa diubah.
Tambahnya jika sudut
pandang dari psikologi dikaitkan dengan agama itu akan berbeda. Dia mengatakan
wajar jika orang religious tidak bisa menerima perilaku ini karena doktrin
agama melarangnya. Tetapi hal tersebut bukan dari bagian ilmu kedokteran
modern, imbuhnya.
Menurut Psikolog Tika
Bisono mengatakan perilaku LGBT dapat disembuhkan. Menurutnya lama tidaknya
penyembuhan perilaku itu, tergantung pada kondisi gangguan atau penyimpangannya.
Ada dua cara penyembuhan perilaku LGBT. Kata Tika, pertama terapi psikologi
untuk mereka yang terpengaruh karena lingkungan dan kedua untuk mereka yang
mengaku karena hormon kemungkinan masih dapat disembuhkan dengan terapi hormon.
“Jadi kalau lingkungan bisa terapi secara
psikologis, dan kalau hormone bisa terapi secara hormonal di rumah sakit,”
ujarnya, Senin (15/2/2016), lansir Republika.
Dia mengatakan
kemungkinan mereka yang memiliki penyimpangan karena hormon bisa disembuhkan.
Namun itu memerlukan upaya agar mereka tidak berada di tengah-tengah lagi. Kata
dia, transgender itu salah satunya, dan kalau memang ingin berubah dapat
dilakukan secara klinis kalau hormonnya benar-benar menunjang.
“Banyak yang terapi hormon. Kalau mau memilih
salah satu, yaitu terapi hormon,” jelasnya.
Berdasarkannya, untuk
kesembuhan lama atau sebentar tergantung dengan kondisi gangguan atau
penyimpangannya. Banyak yang bisa diluruskan kembali, terutama mereka yang
berada di persimpangan. Jadi kata Tika, nantinya mereka tidak bingung lagi
berada di tengah-tengah. Tika juga menegaskan banyak perilaku LGBT lebih banyak
terjadi karena salah bergaul dan kebiasaan daripada masalah hormon. Untuk daat
menyembuhkan mereka perlu dilihat berapa lamanya (berprilaku LGBT), tergantung
dari gaya hidup mereka.
“Kemudian orang tersebut bersedia diberikan
terapi atau tidak?,” katanya..
Dia menerangkan
psikoterapi terkait LGBT, sudah ada ratusan tahun. Di Indonesia sudah cukup
banyak yang dapat melakukan terapi hormon. Ada yang kembali dan memilih tidak
dipersimpangan lagi.
Sumber
:
Arrahmah. Terapi Penyembuhan LGBT. https://m.arrahmah.comHmpsikologi. LGBT dari Sudut Pandang Psikologi. http://hmpsikologi.fkunud.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar