Selasa, 14 Juni 2016

LGBT


LGBT

A.    LGBT
Lesbian Gay Bisexual Transgender atau yang sering disingkat dengan LGBT dianggap sebagai suatu kondisi penyimpangan orientasi seksual. Lesbian adalah sebutan bagi seorang wanita yang memiliki ketertarikan emosi dan hubungan seksual terhadap sesama wanita dan Gay adalah sebutan  bagi seorang pria yang memiliki ketertarikan emosi dan hubungan seksualnya adalah terhadap pria lain. Kondisi ini kerap disebut dengan homoseksual yakni memiliki ketertarikan secara fisik dan emosional dengan individu berjenis kelamin sama. Sedangkan biseksual adalah suatu kondisi seseorang yang memiliki ketertarikan emosi dan seksual kepada lawan jenis sekaligus kepada sesama jenis. Transgender adalah istilah yang digunakan untuk orang yang identitas gender, gender expression,atau perilakunya tidak sesuai dengan identitas seksualnya. Identitas gender (gender identity)adalah pengetahuan diri seseorang mengenai gendernya yaitu pria atau wanita, gender expression adalah cara seseorang untuk mengkomunikasikan identitas gendernya kepada orang lain melalui perilaku, pakaian, gaya rambut, suara atau karakteristik tubuhnya, dan identitas seksual adalah jenis kelamin biologis seseorang yang dibawa sejak lahir.

B.    Penyebab Utama
§     Biologis
Faktor biologis seperti pengaruh genetik dan level hormon prenatal ( level hormone sebelum melahirkan), pengalaman masa kecil, dan pengalaman di masa remaja atau dewasa menurut banyak ahli dapat berpengaruh untuk perkembangan identitas gender dan transgender. Ada juga ahli yang berpendapat bahwa terdapat struktur yang bebeda pada medial preoptik areayang menyebabkan seseorang memiliki disorientasi seksual. Jika seseorang merasa tidak nyaman atau tidak puas dengan identitas seksual yang dibawanya sejak lahir karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan maka hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi transgender.
§     Lingkungan
Lingkungan mengambil peranan yang cukup penting bagi seseorang untuk memahami identitas seksual dan identitas gendernya. Faktor lingkungan ini terdiri atas :
·        Budaya / Adat Istiadat. Pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi masing-masing orang dalam kelompok masyarakat tersebut. Demikian pula dengan budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur homoseksualitas dapat mempengaruhi seseorang menjadi seorang homoseksual (lesbian dan gay) ataupun dengan budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur biseksualitas yang dapat menyebabkan seseorang menjadi seorang biseksual. Mulai dari cara berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan maupun pola pemikiran tertentu terutama berkaitan dengan orientasi, tindakan dan identitas seksual seseorang.
·        Pola Asuh. Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi seseorang menjadi LGBT. Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria atau perempuan. Pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebut seperti penampilan fisik yang meliputi pemakaian baju, penataan rambut, pengenalan karakteristik fisik meliputi perbedaan alat kelamin pria dan wanita, karakteristik sifat seperti pria yang lebih menggunakan logika, lebih menyukai kegiatan yang memacu adrenalin dan mengandalkan fisik. Sedangkan wanita cenderung lebih menggunakan emosi dan perasaan dan lebih memilih kegiatan yang mengandalkan otak dan otot halus. Karakteristik tuntutan dan harapan seperti sosok pria yang dituntut menjadi tegas, kuat dan bekerja untuk menafkahi keluarga sedangkan wanita yang dituntut menjadi sosok yang lebut, halus agar bisa mengurus keluarga.Figur orang yang berjenis kelamin sama dan relasinya dengan lawan jenis.
·        Dalam proses pembentukan identitas seksual, seorang anak pertama-tama akan melihat pada orangtua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya. Anak laki-laki melihat pada ayahnya dan anak perempuan melihat pada ibunya. Kemudian mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin sama dengannya. Karakteristik homoseksual terbentuk ketika anak-anak ini gagal mengidentifikasi dan mengasimilasi bagaimana menjadi dan menjalani peran sesuai dengan identitas seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita. Kegagalan mengidentifikasi dan mengasimilasi identitas seksual ini dapat dikarenakan figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan peran identitas seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku. Misalnya, ibu yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya. Ayah tampil sebagai figur yang lemah dan tidak berdaya atau orang tua yang homoseksual.Kekerasan Seksual dan Pengalaman Traumatik Kekerasan Seksual. Kekerasan seksual dan pengalaman traumatik kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap orang lain yang berjenis kelamin sama adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi homoseksual.
C.    Apakah LGBT dapat dikatakan sebagai mental disorder?
Suatu keadaan psikologis dapat dikatan sebagai mental disorderhanya bila keadaan tersebut mengakibatkan penderitaan yang parah atau disabilitas. Banyak LGBT yang tidak merasa gender mereka sebagi suatu kesengsaraan atau “kelumpuhan” termasuk bahwa identitas sebagai LGBT tidak dapat dikatakan sebagai mental disorder. Untuk orang-orang tersebut, masalah yang signifikan adalah mencari sumber-sumber yang dapat dijangkau seperti konseling, terapi hormon, prosedur medis, dan dukungan sosial untuk dapat secara bebas mengekspresikan identitas gender mereka dan menekan diskriminasi. Banyak rintangan lain yang dapat menyebabkan keadaan yang sulit termasuk kurangnya penerimaan di masyarakat, pengalaman diskriminasi secara langsung ataupun tidak langsung atau penyerangan. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat mengakibatkan LGBT hidup dengan kecemasan dan depresi.
Ada 2 jenis kecenderungan LGBT yaitu Ego sistonik dan ego distonik. Ego sistonik adalah LGBT merasa sangat nyaman dengan perasaannya sehingga cenderung menunjukkan di depan umum tanpa merasa canggung sedangkan ego distonik adalah LGBT yang merasa kurang nyaman dengan keadaannya sehingga tidak menunjukkan keadaan sebenarnya di di depan umum.
Berdasarkan pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder(5th ed.; American Psychiatric Association, 2013), orang yang mengalami pengalaman yang intens, berkaitan dengan ketidaksesuaian gender dapat diberikan diagnosis sebagai gender dysphoria. Beberapa berpendapat bahwa diagnosis yang tidak sesuai dengan patologis ketidaksesuaian gender harus dieliminasi. Yang lain berpendapat hal ini esensial untuk menahan diagnosis untuk menjamin akses untuk perawatan. The International Classification of Diseases (ICD) masih direvisi, dan mungkin akan ada perubahan menuju klasifikasi terbaru dari ketidaksesuaian gender yang telah berlangsung lama sebagai gender identity disorder.

D.   Apakah LGBT bisa disembuhkan?
Dikutip dari portal online BBC Indonesia pada tanggal 10 Februari 2016, Ahli Neurologi, dr. Ryu Hasan mengatakan tidak ada istilah sembuh bagi orang yang memiliki orientasi seksual lesbian gay, dan biseksual. Menurutnya, di dalam dunia kedokteran saat ini, LGBT bukanlah penyakit ataupun gangguan jadi tidak perlu disembuhkan, kecuali jika mereka (LGBT ) merasa tidak nyaman maka dapat dikatakan mengalami gangguan dan peru dilakukan terapi. Tetapi, konseling yang dimaksud Ryu Hasan bukanlah untuk menghilangkan perilakunya melainkan berfokus untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. Dia menegaskan bahwa orientasi seksual tidak bisa diubah.
Tambahnya jika sudut pandang dari psikologi dikaitkan dengan agama itu akan berbeda. Dia mengatakan wajar jika orang religious tidak bisa menerima perilaku ini karena doktrin agama melarangnya. Tetapi hal tersebut bukan dari bagian ilmu kedokteran modern, imbuhnya.
Menurut Psikolog Tika Bisono mengatakan perilaku LGBT dapat disembuhkan. Menurutnya lama tidaknya penyembuhan perilaku itu, tergantung pada kondisi gangguan atau penyimpangannya. Ada dua cara penyembuhan perilaku LGBT. Kata Tika, pertama terapi psikologi untuk mereka yang terpengaruh karena lingkungan dan kedua untuk mereka yang mengaku karena hormon kemungkinan masih dapat disembuhkan dengan terapi hormon.
“Jadi kalau lingkungan bisa terapi secara psikologis, dan kalau hormone bisa terapi secara hormonal di rumah sakit,” ujarnya, Senin (15/2/2016), lansir Republika.
Dia mengatakan kemungkinan mereka yang memiliki penyimpangan karena hormon bisa disembuhkan. Namun itu memerlukan upaya agar mereka tidak berada di tengah-tengah lagi. Kata dia, transgender itu salah satunya, dan kalau memang ingin berubah dapat dilakukan secara klinis kalau hormonnya benar-benar menunjang.
“Banyak yang terapi hormon. Kalau mau memilih salah satu, yaitu terapi hormon,” jelasnya.
Berdasarkannya, untuk kesembuhan lama atau sebentar tergantung dengan kondisi gangguan atau penyimpangannya. Banyak yang bisa diluruskan kembali, terutama mereka yang berada di persimpangan. Jadi kata Tika, nantinya mereka tidak bingung lagi berada di tengah-tengah. Tika juga menegaskan banyak perilaku LGBT lebih banyak terjadi karena salah bergaul dan kebiasaan daripada masalah hormon. Untuk daat menyembuhkan mereka perlu dilihat berapa lamanya (berprilaku LGBT), tergantung dari gaya hidup mereka.
“Kemudian orang tersebut bersedia diberikan terapi atau tidak?,” katanya..
Dia menerangkan psikoterapi terkait LGBT, sudah ada ratusan tahun. Di Indonesia sudah cukup banyak yang dapat melakukan terapi hormon. Ada yang kembali dan memilih tidak dipersimpangan lagi. 

Sumber :
Arrahmah. Terapi Penyembuhan LGBT. https://m.arrahmah.com
Hmpsikologi. LGBT dari Sudut Pandang Psikologi. http://hmpsikologi.fkunud.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar